Ke Guluk-Guluk I

Alhamdulillah, selama seminggu (1 – 6 Juli 2007) kita berombongan yang terdiri dari 4 dosen dan 9 mahasiswa bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Annuqayah (PPA) Guluk-guluk Sumenep yang diasuh oleh KH Basyir Sajjad. Pesantren yang didirikan tahun 1800an ini memiliki sekitar 6.500 santri dari berbagai strata pendidikan mulai SD / Ibtidaiyah hingga Perguruan Tinggi (Sekolah Tinggi Ilmu KeIslaman Annuqayah).

Silaturahmi ini dalam rangka Training for trainer atas prakarsa Sampoerna Foundation, yakni memberi training MS Office dan Arabic Windows kepada para calon trainer di lingkungan PPA. Dalam kenyataannya lebih jauh lagi yakni sosialisasi open office yang meliputi sistem operasi, open office, dan website Joomla. Kedepan pihak PPA sangat berkeinginan menerapkan teknologi informasi untuk kemajuan akademik pesantren. Karena itulah, beliau2 sangat antusias dengan berbagai software pendidikan agama yang kita download dari Timur Tengah, termasuk Maktabah Syamilah.

Saat itu juga kita lakukan silaturahmi dengan warga PMII setempat, baik PMII Putra (Rabu) dan PMII Putri (Kamis) untuk menyusun kembali orientasi organisasi dan program2nya. Kita sangat berharap agar program2 PMII tidak hanya menebar wacana belaka, namun juga yang langsung bisa dirasakan manisnya oleh rakyat khususnya ummat Islam di Sumenep. Juga untuk mendorong warga PMII makin giat belajar menambah pengetahuan agama, ilmu alat, dan umum. Ada satu hal yang menyedihkan, bahwa prosentasi kematian ibu saat melahirkan sangat tinggi di Sumenep. Ini tantangan berat bagi seluruh lapisan warga NU untuk belajar. Semoga shahabat sekalian para dokter, bisa memberi beberapa panduan yang mungkin bisa menjadi action plan para pimpinan NU di sana.

Selanjutnya, saya sempat tertegun menyaksikan imtihan (di Jepang namanya Happyou Kai) yang menggelar lomba pidato (reporter) dalam bahasa Inggris dan Arab. Intonasi dan Spelling para mahasiswa / mahasiswa itu sangat membanggakan. Mereka berbicara bak para penyiar TV swasta dalam siaran bhs Inggrisnya. Logat / dialek Madura tidak nampak sama sekali saat mereka menyajikan laporan2 aktual dalam bahasa Inggris tersebut.

Silaturahmi demi silaturahmi dengan para ulama dari Silaturahmi ke para ulama, yakni KH Basyir, KH Abd Basith, KH Achmad Fauzi (Pragaan), KH Badrus Soleh, KH Ishomuddin, KH Hanif, dll. cukup mengagetkan. Wawasan beliau sedemikian jauh, dan beliau2 ternyata sdh banyak yang paham teknologi informasi. Sejumlah Gus (sekitar 9 orang) ternyata sdh biasa memakai Linux, Open Office, intranet, dan sebangsanya. Ini sungguh diluar dugaan. Demikian pula silaturahmi dengan beberapa ulama Sumenep dan Bangkalan sangat mengesankan, jauh dari praduga sebelumnya yang mengesankan banyak ulama lebih aktif ke politik. Ulama yang mementingkan politik itu memang ada tapi ternyata jumlahnya sangat-sangat sedikit. Kesan dari gambaran pers tidak terbukti di sana, bahkan sebaliknya, saya temui langsung puluhan ulama yang begitu ikhlas berdakwah, mengajar, membangun pondok, merogoh koceknya sendiri, dan mendarma baktikan hidupnya demi penyebaran ajaran Islam. Saya juga kaget bahwa ribuan santri ini tidak dikenakan biaya.

Acara ziarah bareng kita mulai dari makam Syekh Syarqowi (asal Kudus) yang mendirikan Pesantren Annuqayah (Sumenep), kemudian ke Asta Tinggi (Sultan Abdurrahman dan Bindara Saod). Konon disebut Saod, karena karomah beliau yakni sejak dalam kandunganpun bisa manyahut (nyaod) bila dipanggil. Sedangkan Sultan Abdurrahman diluar kesibukan beliau sebagai raja telah sempat menulis AlQur’an dengan tulisan tangan sendiri).

Silaturahmi berikutnya semoga makin banyak shahabat2 yang turut serta.

Madura ini bagi saya ckp mengkhawatirkan, sebab dg kondisi masyarakat yang masih seperti ini namun dipaksa untuk menghadapi tantangan2 baru yg luar biasa (pasca suramadu nanti). Bagaimana nasib pendidikannya, tenaga kerjanya, sekolah2 agamanya, akhlak sehari2nya, budaya santunnya, tkt ekonominya, dll. Sedangkan para kiainya (yg berkualitas tinggi) sdh pada wafat. Tapi td malam dlm musyawarah kita dg KH Mudatstsir (Pamekasan), saya sangat senang mendengar cerita beliau ttg perkembangan SMK Informatika (katanya disupport PENS ITS) di pesantrennya. Adapun KH Abdus Salam (Al-Khozini) tadi malam menceritakan rencana beliau mendirikan Ma’had Aliy (Pasca Sarjananya Pesantren) yg akan disupervisi oleh Dr. Syekh Ismail (Makkah) yg Insya Allah akan silaturahmi ke tanah air, awal Juli nanti.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.