Status_Facebook โ€“ 9 November s/d 9 Desember 2012

Shahabat dari Semarang ini memang sering perjalanan jauh. Tentu dia juga suka berdoa agar selamat dan lancar di perjalanan.

Sayang sekali hari itu dia “ketinggalan kendaraan”, shg hrs ikut jadwal berikutnya. Hampir saja dia mengklaim travelingnya “tidak lancar”.

Tapi tiba-tiba terdengar kabar bahwa kendaraan yg mestinya membawanya tadi ternyata kecelakaan di tengah jalan.
Ya, dia ganti ber-Alhamdulillah… Selamet.

Bisa saja, doa agar selamat, ternyata berjawabkan “ketinggalan kendaraan”. Meski nampak tak berkorelasi, namun itulah jwb yg efektif dan efisien atas doanya.

Demikian pula, contoh lain utk doa minta pandai, sehat, rizki, istri, dst.
Maka kadang “terputus hub” dg sso, bisa jadi adalah sebab turunnya jwb atas doa, dst.

Mahallul Qiyam, 9 Des 2012. Dalam rangkaian Dies ITS ke-52. Semoga sivitas akademika ITS makin meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. โ€” with Andri Nurdiyansyah.
“Pak, membajak itu halal apa haram ?”
“Kan sudah sy bilang, membajak yg halal itu cuma satu, Membajak Sawah”
(…. Lanjutan)
Nah karena menunggu sampai punya topik yg heboh atau hasil yg heboh, maka banyak yg tidak ingin segera memulai. Apresiasi dr orang lain dijadikannya pemicu apakah ia sah memulai latihan atau tidak.

Padahal berlatih adalah jalan alami utk mencapai keberhasilan tsb. Hasil latihan itu dimulai dari tdk heboh, ada terbersit kehebohan tipis, agak heboh, dst. Jadi tdk mendadak heboh.

Maka tdk logis, menggantungkan keberhasilan diri kok kepada apresiasi orang lain. Mestinya ditentukan oleh diri sendiri.

Godaan awal penceramah adalah berharap ceramahnya heboh.
Godaan awal peneliti adalah berharap hasil riset yg heboh
Godaan awal penulis artikel publikasi ilmiah adalah berharap tulisannya bikin heboh.

Maka banyak penceramah yg comot info sana sini yg tdk jelas kebenarannya, lalu diceramahkan.
Maka banyak peneliti yg “bermain2” dg datanya.
Maka banyak penulis yg membubuhkan “kehebohan buatan” di artikelnya.

Sesungguhnya: Peneliti itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong.

Banyak yg memotong jalur mobil, shg bikin org terkaget2.
Atau spd motoran sambil sms-an, shg kendaraan2 di blkgnya penuh kekhawatiran.
Atau menerobos lampu merah, shg pengendara dari jalur seberang ketakutan.

Kalau sso yg melanggar itu disebabkan karena mengejar setoran, atau mencari nafkah, atau mendptkan penghasilan lebih, maka kita dpt menebak apakah uang yg dihasilkannya dg perbuatan dhalim itu termasuk uang haram atau tidak.

Menjelang Munas Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffadh di Zainul Hasan, Genggong, 1993, saya dpt tugas menyiapkan bahan2 munas. Sayangnya malam H-1 bahan itu baru jadi dan pagi itu baru selesai diprint dan hrs digandakan 1000x utk para peserta.

Naik bus dari Surabaya ke Probolinggo nanti pasti memakan waktu lama, karena itu dlm 2-3 jam sy hrs sdh selesai ngopy dan langsung brkt. Tukang foto copy mana sanggup ngeprint sebanyak itu, sepagi itu, dan sesingkat itu.

Alhamdulillah teori parallel processing tiba2 mecungul di kepala saya. Pagi2 keliling cari tk fc, hanya 1 saja yg buka. Lalu saya copy 10x. Selanjutnya mencari 10 kios fc yg buka. Masing2 sy tugasi copy 100x.

Pas perkiraan, pekerjaan 2 hari selesai dlm 2 jam, dan langsung ke terminal. Alhamdulillah tepat waktu, sore hari, semua bahan berhasil sy berikan kpd Ketua JQWH Yai Bashori Alwi (Singosari) yg sdh menunggu di Zaha, asuhan Yai Mutawakkil.

(Kenangan pengalaman sbg office boy kiai)

Pada orasi ilmiah guru besar pagi ini, sbgmana pengukuhan2 sebelumnya, selalu ada ucapan terima kasih kepada org2 yg telah berjasa. Yg menarik di antara nama2 tsb, seringkali ternyata para Almarhum. Meski sdh meninggal nama2 mrk tetap dipanggil2 utk diterimakasihi. Alhamdulillah, mayoritas kita berarti msh mengakui “pendengaran bagus” para ahli kubur itu.

Yg paling menarik, kadang ucapan “Selamat Jalan” sering diucapkan kpd org yg baru meninggal TAPI melalui MILIS (mailing list). Ini berarti si pengucapnya menganggap bahwa si mayyit juga mampu membaca email. Atau bahkan facebook dan twitter.

Workshop di salah satu kampus “tretan dhibik” siang itu mungkin ckp menarik. Para peserta bergegas meluncur ke bbrp alamat web yg saya rekomendasi. Akibatnya internet jd sangat lambat. Sy pesan ke panitia:
“Mohon diberitahu agar peserta menghentikan dulu internetannya ya”
“Baik Pak”

Panitia itu langsung berteriak spontan:
“Pengumuman. Bagi peserta yg sedang memakai internet, HARAP DIBUNUH !!”

Waduh… Sehrsnya harap dimatikan… kok jadinya mau “pembunuhan”…

Kasihan bapak itu, mungkin belum pernah tahu struktur keanggotaan DPR/DPRD. Teman saya waktu itu pernah tanya:

“Sampeyan nanti kalau terpilih jadi anggota DPRD, mau komisi berapa ?”
“Saya ini orang baik Mas, mau diberi komisi berapa saja saya terima, diberi komisi 10%pun saya terima”

Halah… dikiranya komisi proyek…

Sebelah sy Jumatan tadi nyenyak sekali sampai terdengar ngoroknya. Khutbah memang lbh banyak unsur ritualnya dan satu arah (tanpa tanya jwb atau diskusi). Kalau khutbah tdk kondusif atau makmum tdk interest, maka rentan ketiduran.

Makanya isinya tdk boleh bertele2 dan hrs singkat. Bahkan sebagian tanda bahwa khatib itu cerdas adalah singkat khutbahnya dan panjang shalatnya.

Sayang sekali, umumnya dua itu biasanya kebalik.

Heyalah, pakai saya checklist segala, akhirnya ketahuan dah, bahwa khutbah kedua kelupaan pesan “taqwa”. Mengingatkan Om Khatib tdk mungkin, ya sudah, setelah Jum’atan saya tambahi sendiri Dhuhur 4 roka’at.

Khatib jaman skrg, karena ikut template dari google, suka lupa bahwa rukun khutbah ada 5 bacaan pd khutbah 1 dan 2:
1. Alhamdulillah (1, 2)
2. Shalawat (1, 2)
3. Message utk bertaqwa (1, 2)
4. Ayat alqur’an minim 1 ayat (di salah satu khutbah)
5. Doa ampunan utk muslimin muslimat (khutbah 2)

Senang dengar lagu mars Maktabah Syamilah sering dinyanyikan.
“Sya mila mila e e”
“waka waka e e”
….. ๐Ÿ™‚
1. Engkau bagaikan matahari
2. Engkaulah matahari
3. Wahai matahari

Ketiganya menunjukkan pemulian kpd sso. Maknanya sama, namun yg terakhir itu yg lbh kuat.
Tdk semua orang itu cerdas dalam memahami nilai rasa yg diungkap dlm gaya bahasa itu, shg ada saja yg menganggapnya berlebihan.
Tapi bila dpt memahaminya akan menimbulkan daya imajinasi yg luar biasa. Berita baiknya, imajinasi berupa dugaan yg baik itu sangat dihargai oleh Tuhan, shg diijabahi.
“Ana inda dhanni abdi bii”
Oleh karena itulah, seringkali hadirin merasakan kehadiran beliau SAW, ketika mrk melantunkan:
“Anta syamsun anta badrun”
Engkaulah sang matahari dan sekaligus sang purnama

Seorang Professor di Jepang pernah bilang begini:
“No innovation without immitation”

Tidak ada inovasi tanpa imitasi. Berinovasi itu hrs dimulai dg mengimitasi dulu cara2 mrk yg sudah sukses.

Orang sangat mustahil utk sukses dlm segala hal atau gagal dlm segala hal. Maka ada yg sukses parsial, misal dlm hal komunikasi, manajemen, keuangan, ilmu, dll.

Dlm agama juga ada tuntunan uswatun hasanah bagi kita kpd Nabi Ibrahim, lalu Nabi Muhammad. Lalu khulafaur rasyidin (alaikum bisunnati….dst ), dan tokoh2 lainnya.

Sesuai kompetensi, Alhamdulillah kita dikaruniai banyak sekali “kiblat” contoh utk imitasi ini.
Lucunya kadang saking seringnya kumpul, tdk sadar bahwa org di dekat kita itu justru sdg dijadikan model imitasi oleh org2 jauh. Lalu kita sendiri cari contoh ke tempat yg lbh jauh…. Bahkan keluar dana berjuta2.

Waktu itu baru selesai perang hunain, Rasulullah SAW membagi ghanimah (harta rampasan perang). Tiba2 datang Abdullah bin Dzil Huwashirah, dari bani Tamim dan berkata โ€œIโ€™dil ya Rasulallahโ€, berbuat adillah ya Rasulallah.
Menurut riwayat Abdur Rahman bin Abi Nuโ€™min, malah โ€œIttaqillah Ya Muhammadโ€, taqwalah pada Allah, hai Muhammad. Menurut riwayat Abdullah bin Amr, โ€œIโ€™dil ya Muhammadโ€. Menurut Imam Hakim, โ€œYa Muhammad, wallahi lain kaanallahu amaraka an taโ€™dil maa araka taโ€™dilโ€. Demi Allah, engkau telah diperintah adil, tapi kenapa kok tidak adil. Ada juga varian hadits lain, “ma araka adalta fil qismahโ€.

Demikianlah kedurhakaan orang yang mengaku sok adil ini, bahkan Rasulullahpun dituduhnya tidak adil dan disuruhnya bertaqwa.

Padahal Rasulullah jelas2 berbuat apa saja itu atas perintah Allah SWT sbgmn ayat โ€œWamaa yanthiqu anil hawa in huwa illa wahyuy yuhaโ€. Tak ada sedikitpun Rasulullah SAW itu menuruti hawa nafsunya, melainkan semuanya atas petunjuk wahyu.

Dan Rasulullah SAW menjawabnya, โ€œwaylakaโ€, celakalah engkau, โ€œwaman yaโ€™dilu idz lam aโ€™dilโ€ (siapa lagi yang adil kalau aku sdh dianggap tdk adil). Bahkan di riwayat lain, Rasulullah SAW sampai sumpah, โ€œWallaahi laa tajiduuna baโ€™di rajulan huwa aโ€™dala alaikum minniโ€, demi Allah tak kan kau jumpai setelahku orang yang lebih adil daripadaku terhadapmu.

Demi menyaksikan kedurhakaan orang sok adil ini, Sayyidina Umar RA langsung angkat bicara, โ€œAllow me to cut off his neck (daโ€™ni an adhrib unuqahu)โ€, biarkan saya penggal leher orang ini.

Dijawab oleh Rasulullah SAW, Daโ€™hu (biarkan saja), โ€œfainna lahu ashhaban yahqiru ahadukum shalatahu maa shalatihi washiyamahu maa shiyamihi yamruquuna minaddiini kama yamruqus sahmu minar ramiyyahโ€. Sesungguhnya dia nanti punya banyak pengikut, kalau kalian membandingkan shalat kalian dengan shalat mereka, kalian bakal minder. Juga kalau kalian bandingkan puasa kalian dengannya kelihatan kalah. Tapi mereka itu keluar dari agama seakan-akan keluarnya anak panah dari busurnya.
Bahkan saking cepatnya digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa โ€œyundhoru fi qudzadzihi falaa yuujadu fiihi syaiun, tsumma yundharu fi nashlihi falaa yuujadu fiihi syaiun, tsumma yundharu fi rishafihi falaa yuujadu fiihi syaiun, tsumma yundharu fi nadliyyatihi falaa yuujadu fiihi syaiunโ€. Umpama qudzadznya dilihat (oleh pemanah) tidak ada apa-apanya, juga nashlnya (besi ujung panah), rishafnya (tempat masuknya nashl), nadliynya (batang anak panah), tidak ada bekas apa-apanya. โ€œQad sabaqal fartsa waddama ayaatuhum rajulun ihda yadaihiโ€, dst. Begitu cepatnya hingga tak ternodai oleh kotoran dan darah (si hewan buruan itu, waktu menembusnya).

Demikianlah, orang (yang mengaku muslim) namun mencemooh Rasulullah SAW. Disebutkan oleh Rasulullah SAW, sifat orang itu:
– Shalat/puasanya seringkali membuat kita tercengang. Tapi ketahuilah Islamnya lepas dari dadanya secepat melesatnya anak panah dari busurnya.
– Rasulullah saja dilecehkan ketaqwaannya, apalagi shahabat dan seluruh ummat Islam yg tidak segolongan dengannya.
– Ingatโ€ฆ dia punya pengikut (massa).
– Kita tidak perlu memeranginya, sebab akan mengakibatkan perpecahan Ukhuwah Islamiyah.

Selanjutnya peristiwa keributan ini diabadikan oleh Allah SWT dengan turunnya QS At-Taubah:58
โ€œDan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marahโ€.

Ini jelas menunjukkan, bahwa fatwa/komentar merekapun UUD, Ujung-Ujungnya Duit, dlm hal ini minta bagian zakat itu. Sekali lagi ndak perlu menuduh2 siapa diantara manusia yg kita hadapi ini yg termasuk golongan itu, tapi seandainya bertemu hendaklah kita jangan gentar dalam beribadah/bersikap bila dikomentari jelek oleh mereka.

Musuh jangan dicari, ketemu jangan lari.
===================
Hadits Bukhari 6421
ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ู‡ูุดูŽุงู…ูŒ ุฃูŽุฎู’ุจูŽุฑูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนู’ู…ูŽุฑูŒ ุนูŽู†ู’ ุงู„ุฒู‘ูู‡ู’ุฑููŠู‘ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽู„ูŽู…ูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุณูŽุนููŠุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽู‚ู’ุณูู…ู ุฌูŽุงุกูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจู’ู†ู ุฐููŠ ุงู„ู’ุฎููˆูŽูŠู’ุตูุฑูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽู…ููŠู…ููŠู‘ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุนู’ุฏูู„ู’ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽูŠู’ู„ูŽูƒูŽ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุฏูู„ู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽุนู’ุฏูู„ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูู…ูŽุฑู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจู ุฏูŽุนู’ู†ููŠ ุฃูŽุถู’ุฑูุจู’ ุนูู†ูู‚ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฏูŽุนู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู‹ุง ูŠูŽุญู’ู‚ูุฑู ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ุตูŽู„ูŽุงุชูŽู‡ู ู…ูŽุนูŽ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽุตููŠูŽุงู…ูŽู‡ู ู…ูŽุนูŽ ุตููŠูŽุงู…ูู‡ู ูŠูŽู…ู’ุฑูู‚ููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูŽู…ู’ุฑูู‚ู ุงู„ุณู‘ูŽู‡ู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุฑู‘ูŽู…ููŠู‘ูŽุฉู ูŠูู†ู’ุธูŽุฑู ูููŠ ู‚ูุฐูŽุฐูู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠููˆุฌูŽุฏู ูููŠู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูู†ู’ุธูŽุฑู ูููŠ ู†ูŽุตู’ู„ูู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠููˆุฌูŽุฏู ูููŠู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูู†ู’ุธูŽุฑู ูููŠ ุฑูุตูŽุงููู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠููˆุฌูŽุฏู ูููŠู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูู†ู’ุธูŽุฑู ูููŠ ู†ูŽุถููŠู‘ูู‡ู ููŽู„ูŽุง ูŠููˆุฌูŽุฏู ูููŠู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ู‚ูŽุฏู’ ุณูŽุจูŽู‚ูŽ ุงู„ู’ููŽุฑู’ุซูŽ ูˆูŽุงู„ุฏู‘ูŽู…ูŽ ุขูŠูŽุชูู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฅูุญู’ุฏูŽู‰ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุซูŽุฏู’ูŠูŽูŠู’ู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุซูŽุฏู’ูŠู ุงู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูุซู’ู„ู ุงู„ู’ุจูŽุถู’ุนูŽุฉู ุชูŽุฏูŽุฑู’ุฏูŽุฑู ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุญููŠู†ู ููุฑู’ู‚ูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุณูŽุนููŠุฏู ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุณูŽู…ูุนู’ุชู ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู‹ุง ู‚ูŽุชูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ู…ูŽุนูŽู‡ู ุฌููŠุกูŽ ุจูุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุนู’ุชู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽุนูŽุชูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู†ูŽุฒูŽู„ูŽุชู’ ูููŠู‡ู { ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู„ู’ู…ูุฒููƒูŽ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุงุชู

Ngaji rutin di kediaman Kiai Sulkhan biasa saya ikuti tiap habis Subuh hingga saat berangkat sekolah. Sudah cukup banyak kitab yg kami khatamkan dalam asuhan Beliau. Memang ada yg aneh, bbrp waktu terakhir semasa sakit (sbb sangat sepuh), beliau sering menceritakan tentang berbagai keutamaan orang yg meninggal di hari Jum’at.

Hingga pada suatu Senin (1996), ngaji yg baru berlangsung bbrp menit pagi itu, tiba2 beliau hentikan. Nampak beliau sdh dlm kondisi sangat lelah.
“Sudah, sampai di sini saja ya.”
“Nggih Yai”

Selasa, Rabu, dan Kamis sangat tdk enak, sbb terbiasa ngaji, tapi pintu rumah beliau tertutup, menandakan ngaji libur.

Tepat hari Jum’at pagi tiba2 tersiar kabar bahwa beliau Rois Syuriah NU Bubutan telah kapundut, wafat. Ya, tepat di hari Jum’at sebagaimana yg beliau idamkan.

Rupanya kalimat terakhir itu tdk sekedar mengakhiri sesi ngaji pagi itu, namun kalimat perpisahan kami utk selamanya.

Siang itu selepas Jumatan, keranda beliau menjadi tumpahan kesedihan luar biasa saya. Beliaulah yg membentuk pribadi lahir batin saya selama ini.

Gerimis terus menyertai keberangkatan jenazah beliau mulai dari Mushalla Gundih hingga ke Makam Tembok Surabaya. Tepat saat jenazah beliau sdh terbaring di liang lahad, tiba-tiba hujan berhenti seketika.

Fatihah ilaa ruhi syaikhina Yai Sulkhan wa zaujatihi, annallaha yataghasyahuma birrohmah wal maghfiroh, Alfaatihah.

Panji kebesaran Nahdlatul Ulama dalam bentuk pertama kali saat diciptakan oleh Almaghfurullah KH. Ridwan Abdulllah, Surabaya. Beliau seorang Ulama yang juga ahli melukis. Berdasarkan petunjuk dari Allah SWT setelah istikharah, Beliau gambarkan lambang NU tersebut pada tahun 1926. Beliau pulalah yg mencetuskan sebuah ide besar bagi kemajuan bangsa, yakni ide mendirikan perguruan tinggi teknik di Surabaya dan kelak bila sudah berdiri beliau berpesan agar menamainya dengan “Sepuluh Nopember”. Semangat kepahlawanan arek-arek Suroboyo saat pertempuran 10 Nopember harus diabadikan, demikian beliau pesankan kepada menantunya H. Yahya Hasyim yg tak lain adalah salah satu pendiri ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember).
Saya sering bikin surat dinas yg diberi Tembusan. Misalnya surat yg aslinya ditujukan kpd instansi ttt, saya beri tembusan kpd para Kajur, para Kaprodi, para Kasubag, dan para Kalab.

Meski surat itu satu saja, tapi staf saya tahu betul bahwa surat itu hrs dicopy sesuai jumlah Kajur plus jumlah kaprodi plus jumlah kasubag, dan jumlah laboratorium. Banyak sekali akhirnya. Logika “cc” pd email juga sama.

Demikian sederhananya mengcopy surat sbgmana saya memohon copy pahala utk dihadiahkan kpd si A, si B, si C, dsb.
“Allahumma taqabbal wa awsil tsawaba ma qara’nahu… ila ruhi si A wa si B wa si C”.

Demikian pula dzikir yg cuma satu kali, direkomendasi utk ditambah kata “adada”. Misal subhanallah adada ma khalaqallah. Mudah sekali bagi Allah SWT utk mengcopy pahala tasbih itu sejumlah angka yg kita inginkan, meski angkanya fantastis. Maklum waktu kita sangat singkat, tenaga dan kesempatan kita tdk banyak, shg butuh cara2 yg efektif dan efisien.

Karenanya dzikir berikut disunnahkan kita baca tiap pagi:

ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู’ู…ู ูˆูŽุจูุญูŽู…ู’ุฏูู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ุฎูŽู„ู’ู‚ูู€ู‡ู ูˆูŽุฑูุถูŽู€ู‰ ู†ูŽูู’ุณูู€ู‡ู ูˆูŽุฒูู†ูŽุฉูŽ ุนูŽุฑู’ุดูู‡ู ูˆูŽู…ูุฏุงูŽุฏูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชูู‡ู. (ุซู„ุงุซุง)

Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan puji-pujian untukNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak bilangan keridhaan-Nya, sebanyak timbangan โ€˜Arsy-Nya dan sebanyak bilangan kalimat-Nya. (3x)

Siang ini di ITS diresmikan “Kran Air Siap Minum” di depan SSC. Nampak ada larangan utk “cuci muka”, “bawa botol”, dll.

Kalau di Fiqih, dijelaskan ada air suci yang tidak boleh dipakai bersuci, yakni air kendi di pinggir jalan yg disediakan khusus untuk minum. Kendi seperti itu dulu ada di kampung2. Sekarang entah karena sudah banyak penjual Aqua ataukah saking pelitnya penduduk, sudah tidak ada lagi.

Maka shadaqah berbentuk air minum ini, meski sepele ternyata sangat penting, shg mendapat perlindungan khusus dalam ilmu Fiqih agar tidak dipakai utk selain minum.

Almaghfurullah KH Fauzi, Pekamban, Pragaan, Sumenep dahulu sering jadi jujukan masyarakat utk bertanya tentang tasawuf. Alhamdulillah siang itu saya ditakdirkan Allah SWT berhasil ditemui langsung dan diberi bbrp wejangan.

“Kiai itu orang baik, bahkan saking baiknya menganggap semua orang yg datang kepadanya sbg org baik, sebaik dirinya.”

Benar juga, kan tidak semua orang yg datang itu bermaksud baik. Banyak yg belakangan justru menipu atau memelintir sambutan baik itu utk kepentingan pribadi.

Ada satu lagi yg membuat saya terngiang, yakni ketika saya matur kpd beliau:
“Yai, bagaimanakah cara menyeimbangkan antara Roja’ dan Khauf ?”
“Mengapa Sampeyan tanya itu ?”
“Sebab kalau terlalu Roja’ orang akan sombong, kalau terlalu Khouf orang akan putus asa”
“Sampeyan pasti sedang baca pikiran saya. Saya juga sedang memikirkan itu”

Masya Allah. Orang sekaliber Beliaupun ternyata juga selalu memikirkan kualitas dirinya di hadapan Allah SWT. Beliau mengajarkan utk menata hati agar tetap optimis dan tidak sampai over menuju kpd kesombongan. Juga agar tetap khouf, memiliki rasa takut terhadap perbuatan dosa, neraka, dan murka Allah, namun tidak sampai over khouf shg putus asa.

Maklumlah, kalau kita jadi org yg “Allahumma”nya selalu diijabahi Allah pasti akan sangat rentan menjadi sombong. Karena itu hrs selalu dijaga agar keduanya seimbang.

(Bersama Pak Panji dan Pak Toni)

Sekitar 20 tahun lalu saya mulai rajin membaca Kitab fiqih Sabilal Muhtadin yg cukup melegenda di Kawasan Asia Tenggara, sbb bertuliskan Arab dan berbahasakan Melayu. Kitab tsb disusun oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Begitu mengesankan, shg sy ingin sowan ke makam beliau di Martapura. Alhamdulillah doa saya dikabulkan Allah, sy ada tugas ke Banjarmasin. Di sela tugas itu, saya pamit kpd teman2 utk ziarah ke Datuk Kalampayan di Dalam Pagar, Martapura.

“Saya mau ziarah ke Kalampayan”
“Ke Kalampayan, ada hajat apa Pak ?”
“Oh harus ada hajat dulu ya ?”
“Ya biasanya kalau ke Kalampayan ada hajat Pak”

Jadi rupanya di masyarakat sdh kurang membudaya mengunjungi seorang alim utk kepentingan ukhrowi atau bathiniyyah atau keilmuan. Kepentingan itu harus duniawi, pangkat, bisnis, dst.

Padahal meski inginnya melaksanakan perintah agama utk ziarah makam auliya, sy juga ingin ucapkan terima kasih. Kitab yg beliau susun sdh sangat menginspirasi sy. Alhamdulillah dg ditemani Alm. Saiful Bahri (Mas Bakri) TC ’97, setelah melewati belantara luas, menyusuri sepanjang sungai itu, saya sampai di hadapan makam beliau.

Lagi2 sy terbayang, betapa dg kondisi lingkungan yg sangat sulit 250an tahun lalu, beliau berhasil menyelesaikan 2 jilid masterpiece yang sangat monumental itu. Kelak Sabilal Muhtadin digunakan juga sbg nama Masjid Raya Kalsel. Perjalanan yg sangat mengharukan.

Saya ini tahu banyak hal. Tapi tidak semua hal saya tahu.Anda juga pasti tahu banyak hal. Tapi tentu tidak semua hal Anda tahu.

Jadi…. Pantes gak, kalau bilang:
– Saya ini tidak tahu apa-apa. [Banyak yg anda tahu kok.]
– Saya bukan orang yg hebat. [Setidaknya hebat dlm hal yg diketahui.]
– Saya selalu benar. [Bukankah ada yg kita tdk tahu, bgm bisa itu benar.]
– Kamu selalu salah. [Bukankah dlm bbrp hal dia ahlinya dan kita bukan.]

(Biar tdk minder atau tdk sok tahu).

Hotel tempat sy menginap bbrp waktu lalu itu cukup menarik. Pemiliknya ternyata dulunya bekerja sbg tukang becak.
Contoh spt itu sdh sering kita dengat. Kelihatannya memang klise. Tapi sesungguhnya memang orang miskin yg berani itu jauh lbh bagus ketimbang org kaya yg penakut.
Ngopy tulisan Gus Ghofur Maimoen:
Nikah mut’ah difawakan halal oleh Islam Syiah. Tapi dengan pergi ke Puncak, Bogor, kita akan segera mengerti bahwa pelakunya justru umat Sunni-Wahhabi, yang ulama-ulamanya getol mengharam-nistakan mut’ah. Mereka merayu para ulamanya agar menemukan pintu menuju kehalalannya. Setelah membuka-buka maraji’ dan berijtihah, akhirnya ketemu juga. Tidak persis mut’ah, tapi mirip sekali. kira-kira seperti baju kotak-kotak dan baju garis-garis, tapi yang memakai orang yang sama. Nikah ciptaan Arab Teluk ini namanya “nikah misyar”, alias nikah tamasya .. he hee ..
Jangan terlalu methentheng ngomong sama spesies satu itu. Coba lihat bgm shahabat kita menjawabnya.

Wahabi 1 : Jangan melakukan suatu ibadah yang nggak ada contoh dari Rasulullah saw
Abu Nawas : Kalo gitu jangan ente dengerin kutbah jum’at dengan Bahasa Indonesia

Wahabi 2 : Semua amalan itu tertolak kalau nggak ada contoh dari Rasulullah
Abu Nawas : Kalo gitu ente jangan lakukan shalat tarawih sebulan penuh di mesjid

Wahabi 3 : Islam itu sudah sempurna nggak perlu di tambah2 lagi
Abu Nawas : Kalo gitu nggak usah banyak omong, Islam kan sudah sempurna nggak perlu lagi di tambah2 ajaran aneh wahabi

Wahabi 4 : Kubah kuburan wali harus di rubuhkan karena berpotensi syirik di sembah2
Abu Nawas : Kenapa hanya kubah kuburan doang yg di rubuhkan, sekalian aja tebang semua pohon didunia, ratakan gunung2, goa2, laut, semuanya juga berpotensi syirik

Wahabi 5 : Tassawuf itu ajaran baru karena Rasulullah nggak pernah menyebut sufi
Abu Nawas : kalau gitu nggak usah belajar hadits karena istilah2 muhaddits pun Rasulullah gak pernah sebut

Wahabi 6 : Jangan percaya ulama, ulama itu nggak ada yg maksum yg maksum cuma Rasulullah
Abu Nawas : Kalau gitu nggak usah pakai hadits karena semua hadits di riwayatkan para ulama

Wahabi 7 : Maulid itu bid’ah nggak boleh di lakukan
Abu Nawas : Kalau gitu besok anak ente lahir nggak usah senyum senang karena itu bagian dari perayaan kelahiran

Wahabi 8 : Indonesia ini negara thaghut
Abu Nawas : Kalau gitu nggak usah tinggal di Indonesia

Wahabi 9 : Aqidah Asy’ariyyah itu sesat
Abu Nawas : Kalau gitu nggak usah pakai kitab Ibnu Hajar Al Asqalani

Wahabi 10 : Imam Syafii itu nggak maksum
Abu Nawas : Apa lagi antum..:D

Osaka Jyo (Osaka Castle) yg sy kunjungi itu, sbgmana benteng2 lain yg dibangun di kota besar seantero Jepang dilengkapi dg teks cerita sejarahnya. Meski dibangun 600-700 tahun yg lalu, namun jejak sejarah itu tetap dipelihara dg baik.

Alhamdulillah di negara kita juga demikian. Peninggalan walisongo, jejak kerajaan kuno, candi dan petilasan, serta berbagai tempat bersejarah masih tertata dg rapi. Sentuhan langsung dg bekas sejarah pasti berbeda dg membaca sejarah dari buku atau wikipedia.

Di sisi lain ada sekte primitif yg suka menghapus bekas sejarah ini, dg alasan yg dibikin2nya sendiri. Ketakutan akan syirik, khurafat, atau bid’ah menunjukkan betapa rendah wawasan dan budaya yg mrk miliki, shg tidak mampu mengakui ketinggian budaya leluhur kita di masa lampau.

Betapa sedih, lokasi rumah peninggalan Rasulullah SAW saat berumah tangga dg Sayyidah Khadijah, dekat Masjidil Haram, saat ini sdh digusur dan digantikan jadi toilet. Sangat tdk respek thd sejarah. Semoga sekte primitif spt itu tidak berkembang di Indonesia.

http://www.osakacastle.net/english/park/index.html

Sbnrnya sudah lama orang Jepang yg kerja di pabrik farmasi ini mempelajari bbrp agama termasuk Islam. Bbrp hari terakhir dia aktif menemui saya dan menanyakan bbrp hal.

“Mengapa banyak teroris bermunculan di Islam”
“Terorisme bisa muncul di agama apa saja. Di India juga banyak masjid yg dirusak orang. Di Eropa juga. Bahkan di Indonesia ada teroris yg menganggap baik membunuh muslim lain yg dianggapnya tidak sepaham dgnya”

Cukup lama dia bertanya jawab dg saya, tdk hanya sehari dua hari. Lalu sy lontarkan usulan berikut ini.

“Dari pada bertanya terus spt ini, bagaimana kalau baca syahadat dulu ? Jadinya akan beda”
“Apa bedanya ?”
“Setelah baca itu nanti, diskusi ini akan dihitung sbg ibadah, tidak sekedar obrolan. Buku amal akan dibikin, lalu semua usaha belajar ini ditulis menjadi bagian ibadah”

“Baik saya setuju. Bagaimana bacanya ?”

Masya Allah, bak ada halilintar di siang bolong, saya harus menulis dan mengajarkan syahadat dg huruf katakana.

“Asyafadu an rairaha in rara
Wa asyafadu anna muhanmadan rasurura”

Siang itu saya mengajar sekaligus mendengar bacaan ini berulang2, seraya menitikkan air mata.

Toilet di Jpg skrg beda dg jaman saya tinggal di sana dulu. Hampir semua WC (hotel, gedung, mall, dll) pada dilengkapi semprotan air, baik otomatis (sensor, tombol, knob) maupun manual (slang semprot), di samping tetap ada gulungan tisu.

Idealnya dlm Fiqih memang istinjak itu dg tisu lbh dulu, baru dg air.

Ketika turun ayat “lamasjidun ussisa alat taqwa… yuhibbul mutathahhiriin” (QS 9:108), Rasulullah segera mendatangi Masjid Quba’ yg memang sdg dibahas di ayat itu. Diterangkan bahwa di Quba’ jamaahnya suka bersuci (higienis) dan Allah SWT menyatakan mencintai org yg suci itu. Rasulullah datang utk bertanya apa yg mrk lakukan hingga disebut scr explisit dlm ayat tsb.

Ternyata jamaah masjid Quba’ bilang bahwa mrk istinjaknya dg batu dulu, baru disusul dg air. Persis dg fasilitas modern tsb, kita bisa bersihkan pakai tisu dulu, baru air.

Alhamdulillah sudah sampai kota tercinta. Kembali merasakan kehangatan (sumuk?) Suroboyo.

Tugas dinas…. done.
Silaturahim…. done.
Kolaborasi…. done.
Nostalgia…. done.
Charging battery…. Complete.
Fullbatt !!!

Debat kecil di dlm pesawat KL ke Sby sore ini lucu. Seorang ibu yg duduk dekat kursi sy sdg menanyakan pesanan makanannya.
“Jangan marah2 !”
“Siapa yg marah ? Saya tidak marah”
“Tapi saye tak tau appe tu lombok”

Sebetulnya ibu itu memang tdk sedang marah. Hanya saja logatnya yg meledak2 mengagetkan pramugari dan pramugara pesawat Malaysia ini.

Setelah ditinggal pergi, ibu itu bergumam sendiri, lucu.
“Gak ngerti iku, wong Suroboyo yo ngene iki nek ngomong”

Mestinya kalau tdk dg sesama arek Suroboyo volume dan frekwensinya harus dituning sedikit, Bulek.

Kampus Kansai University ada di puncak gunung. Viewnya bagus spt berada di villa dg pemandangan ke bawah adalah kota Osaka dan Kyoto. Tersedia gedung utk latihan atau pertandingan ski es dan lapangan berkuda. Fakultas Informatikanya juga dilengkapi bbrp studio TV, radio, dan berbagai device multimedia. Kampus swasta ini memang hrs mencitrakan diri sbg kampus org kaya agar makin banyak org kaya yg menyekolahkan anaknya di sana.

Jadi tinggal pilih mau mencerminkan diri sbg sekolahnya orang kaya atau sebaliknya. Syukur2 kalau dibikinkan juga Jurusan yg mendisain orang jadi kaya.

Tingginya uang “buwuhan” manten (sekitar 30 ribuan yen, Rp 3 jutaan) membuat orang tdk begitu happy mendapat undangan manten. Bahkan seandainya sso terlupakan tidak diundang pesta pernikahan, seringkali malah senang, sbb tdk perlu mengeluarkan duit sebanyak itu.

Sebetulnya tdk diundang manten itu memang tidak perlu disikapi dg kekecewaan apalagi perasaan terhina. Minimal bisa hemat uang buwuhan… :-))

Acara makan malam di Osaka kemarin menutup silaturahim
“Enak ya, di negaramu panen padi bisa 3x setahun”
“Di Jepang sekali setahun ya”
“Ya, semuanya serba setahun sekali”

Benar juga, saya lihat sawah pada barusan dipanen, padahal bbrp minggu lagi sudah musim dingin. Sebentar lagi, tentu sawah2 tidak akan dapat ditanami, sbb tertutup salju.

Alhamdulillah, negara kita dikaruniai Allah SWT, dalam setahun saja panen padi bisa 3x, semangka bisa 2x, terus apa lagi ya… berkali2.
Meski demikian, kita tetap harus menyelamatkan pertanian kita, agar mencukupi kebutuhan rakyat, apalagi selama ini pertanian masih dikuasai partai politik dg pengkaderannya. โ€” in Osaka-shi, Osaka.

Naik Kereta di Jpg itu kalau laper tdk bisa spt di Ind yg ketika berhenti di tiap stasiun ada penjual pecel, brem, atau nasi kuning beserta aqua yg menjajakan dagangannya sampai di depan pintu kereta, sehingga org yg sedang lapar bisa langsung beli dan makan di dalam gerbong kereta tanpa harus turun, sementara di Jepang makan di dlm KA terlarang.

Tugas: Kalimat di atas terlanjur sy ketik dan terlalu panjang. Pecahlah kalimat tsb menjadi bbrp kalimat sesuai pokok pikirannya.

Sudah beberapa hari ini saya keliling kota-kota besar, baru ketemu satu ini tadi. Di Jepang memang tidak umum sepeda motoran di jalanan, meskipun saya dulu PP kampus Hiroshima naik motor. Jalan macet pasti bukan karena spd motor, sbb jarang ada spd motor, mungkin karena sdh pada diekspor ke Indonesia semua…. ๐Ÿ™‚
Sekarang pegang uang bbrp ratus ribu saja sudah dapat dijadikan uang muka beli spd motor… ๐Ÿ™‚
Cocok, seiring dg makin tidak nyamannya kendaraan umum.

Coba saja kalau Busnya spt ini tadi, pakai AC, ada headset utk dengerin musik/videonya, fasilitas kursinya senyaman di pesawat, toilet ada, sopirnya sopan, jurusan beragam, pasti orang akan berfikir ulang mau tarung banter2an dengan sumber kencono, mira, eka, harapan jaya…

Baru 2 jam perjalanan di tol, bus yg sy naiki pagi ini sudah berhenti di tempat istirahat tol. Seperti biasa bus antar propinsi suka istirahat.
“Kita berhenti dulu, kyukei (istirahat)”
“Di sini berapa jam menyetir diharuskan istirahat Pak”
“Antara 2-4 jam menyetir, harus diselingi istirahat”
“Jadi maksimum 4 jam harus istirahat ya Pak ?”
“Ya. Kalau sudah 2 jam menyetir, istirahatnya 15-20 menit, kalau 4 jam istirahatnya 30 menit”
“Wah kalau di negara saya, menyetir 6 jampun, sopir tidak istirahat”

Jadwal shalat saja bablas kok. Kecuali kalau sopir kebelet pipis, di tengah sawahpun pasti berhenti. Diikuti para penumpang, lalu bikin shaf lurus, kencing berjamaah… :-)) โ€” at ๅๅคๅฑ‹้ง… Nagoya Station.

“Mulai dari kenaikan sampai keturunan saya mendapat kedudukan bersama sopir persatuan”
Kisah nyata, naik bus jurusan Nagoya ke Osaka. Setelah menunggu 20 menit sendirian bersama sopir, sesuai jadwal jam 8:20 bis berangkat.
“Loh Pak Sopir, saya ini sendirian tah, tidak ada penumpang lain ?”
“Ya, tidak ada halte lagi setelah ini. Satu-satunya halte ya Stasiun Nagoya ini”
“Waduh mohon maaf Pak”
“Tidak apa-apa ini memang waktunya berangkat”Kalau ada mobil pribadi, nah ini ada “bus pribadi”.

Durasi waktu di tempat manapun itu sama. Tapi selama di Jepang ini saya “merasa” waktu sangat cepat berlalu. Baru saja sarapan pagi eh sdh sore. Baru kemarin datang, eh ternyata ini sudah 5 hari. Maka perasaan relatif lebih cepat ini akan terjadi di manapun tempat yang frekuensi aktifitasnya sangat tinggi.
Dan sebaliknya, maka waktu akan terasa sangat lambat, apalagi kalau sedang gundah, gusar, dan galau.
Barangkali pada puncak kegalauan kelak, sehari akan terasa spt 1000 tahun “ka alfa sanatin mimma tauddun” (QS 22:47).
โ€” at Osaka, Japan.

Sambil menunggu pesawat ke Jepang, di Kuala Lumpur sy mengobrol dg teman sebelah, yg ternyata pakar biodiesel dari Jepang yg sdh tinggal lbh dari 7 tahun di Malaysia. Beliau kecewa sbb biodiesel hasil penelitiannya tdk berkembang sebaik di Indonesia.
“Muri desu”
“Doshite desuka ?”Saya tanyakan penyebabnya, malah cerita perbedaan semangat org Ind dan Malaysia.
“Apa bedanya ?”
“Indonesia itu merdekanya saja dg perebutan kemerdekaan, sedangkan Malaysia itu diberi.”

Hmm.. Padahal negara kita skrg makin tdk semangat merdeka dari ketergantungan asing. Contohnya pertanian saja, sdh bbrp periode ini diserahkan ke parpol. Bukannya pengembangan pertanian malah pengembangan pengkaderan.
Satu demi satu pertanian dijajahkan, mulai dari impor beras, lalu gula, kedelai, garam, dst.

FYI, 2012 ini saja diputuskan impor 1 juta ton beras.
http://www.desamerdeka.com/2012/09/ada-mafia-di-impor-beras-gula-kedelai/

โ€œSaya bingung dan heran dengan isu dan teriakan โ€œalahu akbarโ€ dari orang-orang terhadap yang terjadi antara Palestina dan Israel padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak ada peran sama sekali untuk membantu kami, nol besar.โ€ Ungkap Dubes Palestina.

“WOW”
http://forum.kompas.com/nasional/50955-pernyataan-dubes-palestina-yang-mengejutkan.html

Dengan ilmu enkripsi, sso dpt mengacak data sehingga tidak dapat dibaca oleh pihak lain.

Enkripsi di Indonesia ternyata jauh lebih maju, sbb anak mudapun sdh berhasil bikin teknik enkripsi yg cukup canggih.
Saya sendiri kadang butuh bbrp menit utk memecahkan kode dekripsi membaca tulisan ini:

bNaRkH miToZ bNgOnG bqiN oRg gMpAnG kโ€™SuRuPn ,?ah.. gW bLg ,?kLn bNgOn9 mKriN โ€œgWโ€ sH dโ€™jMiN gK bKaL kโ€™sRuPaN yG aD โ€œkTeRuSaNโ€ cBa dH ,!!hehe21xโ€ฆ

#Transit di Malaysia. Dari tadi belum ketemu Kak Ros dan Atok Dalang. Yg banyak Uncle Muhto. Wah Melayunya bisa terdesak tuh.

Salah satu Pembimbing S3 saya dulu Professor dlm bid Dental, shg sy sering sowan ke RS Hiroshima utk bimbingan. Bus dari Stasiun Hiroshima ke RS cukup banyak dan spt biasa terjadwal sangat rapi dan ketat.

Alhamdulillah siang itu di jadwal, sy lihat bus akan brkt sekitar 3 menit lagi. Tidak brp lama setelah sy naik, tibalah saatnya bus berangkat. Pintu buspun ditutup otomatis.

Tiba-tiba dari jauh saya lihat ada seorang ibu yg tergopoh2 datang. Ketika sdh dekat, dia menampakkan wajah memohon agar bisa naik bus (yg sdh ditutup ini).

Di luar dugaan, ternyata Pak Sopir “hanya melirik” ibu itu, tanpa peduli dia tetap menginjak gas dan bus berangkat begitu saja.

Begitu amanatnya sopir tsb thd waktu. Waktunya brkt ya hrs brkt, sbb keterlambatan berangkat akan berakibat tdk sesuai jadwal di halte2 berikutnya, yg berarti berbuat dholim kpd para calon penumpang yg menunggunya di halte2 itu.

Di tanah air, pemberhentian tdk di halte sdh biasa. Bahkan bisa bilang sopir
“Pak, tambah sewu, turun pagar ya !”

Ketidakdisiplinan yg membawa nikmat (?)…

Insya Allah hari ini saya berangkat ke Jepang. Ada tugas presentasi dan kuliah tamu, sekaligus kalibrasi.
Semoga kalibrasi kedisiplinan, gaya hidup, dan semangat saya kali ini makin bermanfaat n berkah.

“Sik FBne jogoen, aku tak nang Jepang diluk yo”.

Siang itu begitu tegangnya, saya diharuskan hadir ke rumah teman yg sdg menunggui ibunya sakaratul maut.

QS. Yasin sdh saya bacakan sesuai SOP org naza’, namun nafas itu sptnya kejar2an dg waktu. Kadang diam lama, kadang tiba2 spt tersedak. Sdh berlangsung bbrp hari.

Beranalog kpd Shahabat Alqomah yg dimaafkan ibunya, maka saya panggil teman sy tersebut.

“Suaminya ibumu di mana ?”
“Di Bandung, kenapa Mas ?”
“Telpkan sekarang juga, mintakan maaf !”
“Sudah kok, sdh pernah ditelp”
“Tidak, sekarang telpkan lagi, skrg juga !”
….(Bbrp menit kemudian)
“Alhamdulillah sudah”
“Bagaimana katanya ?”
“Ya, saya maafkan, dan saya juga minta maaf.”

Bbrp detik kemudian saya tengok ibu itu dan ternyata beliau menghembuskan nafasnya yg terakhir.
Alhamdulillaaaaah eh… Innalillaaah…

NB: Alhamdulillah karena Insya Allah dia husnul khotimah. Innalillah karena sdh wafat.

Bbrp orang sensitif sekali dg Timteng. Sedikit saja ribut, langsung demo, bawa bayi segala, tangis2an dan drama di jalanan. Padahal blm tentu juga siapa yg memulai atau nggarai bentrokan itu.

Tapi sebaliknya kalau ada sesuatu pd bangsa sendiri yg dihajar habis, dibunuh sadis, entah di jiran atau Saudi, kok ya tdk ada teriakan Allahu Akbar. Tdk sensitif sama sekali. Pdhal yg disiksa itu jelas2 muslim tulen.

Apalagi kalau kejahatannya ada di depan mata, seakan “ya sdh mau apa lagi”.
Kenapa ya, sensitifitas kok bisa disetel spt itu ?

Mengapa Yahoo tidak lagi setenar Google ?
Barangkali ada hubungannya dengan shahabat2 saya yg kalau marhabanan atau diba’an sudah tdk pakai Yahoo lagi.

Jaman dulu, di Jawa Timur, di antara lagu trend mahallul qiyam:

“Marhaban Ya Nurul Aini, Marhaban”
“YAHOO !”

Doa yg sangat berbahaya, jangan diamini:
“Ya Allah, hancurkanlah seluruh koruptor dan pelaku money politics, jadikanlah sakit semua yg diberi makan dari duit itu, gelisahkanlah mereka yg pekerjaannya mendukung itu.

Jangan diamini, sbb akan menghacurkan semua isi negeri ini.

Pemilik tambak garam dan pemilik sawah di sepanjang pantura ini pasti berbeda bunyi doanya dalam hal hujan.

Si G inginnya kemarau saja, agar produksi garamnya dpt meningkat. SI S inginnya kemarau segera berakhir, agar sawahnya dpt diairi.

Agak mirip dg pedagang, yg maunya agar jualannya laku dg harga tinggi. Sdgkan pembeli maunya berhasil dpt harga sangat murah.

Maka ditetapkanNyalah sunnatullah dlm berbagai bidang (ekonomi, geologi, pertanian, dll). Bagi yg tdk suka religius menyebutnya “hukum alam”. Maka makin banyak rule dlm sunnatullah itu kita kuasai, maka makin efektif dan efisien hidup kita.

Kira2 di Yahudi ada gak ayat ini ? walan tardlo ankal Islamu walan nashoro hatta tattabi’a millatahum.
Seandainya Sampeyan pemimpinnya.
Plan A: milih org asing, shg sebagian keuntungan mengalir ke LN.
Plan B: milih bongso dw, tapi banyak yg ternyata tikus merangkap bajing. Sudah keuntungannya sangat sedikit, duit yg dihambur2kan utk berlibur dan inves di LN banyak.

Pilih Plan mana coba…

Alhamdulillah silaturahim dg shahabat2 pengelola Madrasah Qudsiyah Kudus sangat menyenangkan. Satu lagi pesantren yg sdh berhasil memasuki dan memasukkan Teknologi Informasi dlm pembelajarannya, administrasinya, dan perluasan aksesnya.

Insya Allah pesantren2 lain akan segera bermunculan berwasilah IT utk mencapai kesuksesan.
Tapi msh banyak yg beranggapan IT sebagai ghoyah (tujuan akhir), pdhal IT itu wasilah (sarana) belaka.

“Lalu, sbg ustadz saya hrs ngapain, kalau semua sdh dpt diklik begitu ?”
“Itulah okenya e-learning, ustadz bertindak sbg fasilitator, motivator, dan kadang2 saja sbg tutor”

E-learning itu yg penting di “learningnya” dan bukan “E”nya.

Serial Kang Bangkak kethoip2 ini selalu menggugah.
Stop stop stop!!! Apa apaan ini! Apa yang kalian baca? Tiba2 Kang Bangkak mencak mencak setibanya di Surau Mbah Lalar.

Para jama’ah sudah hafal model yg satu ini, jadi mereka cuek aja.

Bukan begini cara menyambut tahun hijriyah yg benar! Lanjut Kang Bangkak.

Terus apa yg harus lakukan dalam menyambut bulan yg di sebut Syahrullah ini Kang? Santri yunior Mbah Lalar menimpali.

Gak ada! Sebab Rosulullah tidak melakukannya, jwb Kang Bangkak.

Lho, bukankah Nabi sendiri yg mengatakan kalau dalam Syahrullah ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah? Akhirnya Mbah Lalar gatel juga.

Iya, tapi kan harus sesuai yg dicontohkan Rosulullah!!! Kang Bangkak tampak beringas.

Lha iya, makanya saya tanya, apa amalan yg dicontohkan Rosulullah dibulan ini!?

Ana gak menemukan hadisnya, berarti memang gak dicontohkan laaah, Kang Bangkak mulai bimbang.

wah gimana dong? Masak Rosulullah melewatkan moment penting ini? Masak Rosulullah melewatkan keistimewaan bulan yg ia katakan sendiri? Desak Mbah Lalar.

Kang Bangkak lama diam, tercenung.

tapi darimana dasarnya hitungan hitungan itu? Kang Bangkak mengalihkan pembicaraan.

Dasarnya ya satu dikali sekian sesuai ketetapan ulama, Mbah Lalar kelihatan mesem.

Tapi kenapa harur sekian kali? Sergah Kang Bangkak.

Siapa yg mengharuskan, dan kenapa ente harus usil? Mbah Lalar terkekeh.

Kang Bangkak mlongo, matanya kethop kethop….

Larangan jalan mobil, bus, truk tua nampaknya tidak manusiawi dan mendhalimi pihak tertentu.

Kenyataannya kendaraan yg sangat tua berpolusi tinggi, kadang mogok, atau berjalan sangat pelan, terutama di jalan yg agak menanjak, sehingga menimbulkan kemacetan.

Kemacetan itu sebetulnya juga merugikan, bahkan utk lebih banyak orang, dan mestinya termasuk kedhaliman.

Agak mirip dg orang yg gemar menutup jalan “hanya” karena hemat dana mantenan, sunatan, dll tanpa perlu sewa gedung.

#wisata kuliner dan wisata macet khas pantura

Allahumma antal abadiyyul qadim. Wahadzihi sanatun jadidatun as’aluka fiihal ishmata minasy syaithani wa awliyaihi wal auna alaa hadzihin nafsil ammarati bissui wal isytighala bima yuqarribuni ilaika ya karim.

Meski dibaca hanya setahun 1x, yakni di hari pertama tahun baru, namun doa dari guru lahir batin saya Alm. Kiai Sulkhan ini saya langsung hafalkan. Sebab bukan hanya ritual doanya, namun nilai2 di dlmnya sangat penting dijadikan pedoman selama setahun ke depan.

Dlm doa itu, di awal tahun ini kita:
1. Mohon dilindungi dari syetan dkknya.
2. Mohon pertolongan dlm mengendalikan hawa nafsu
3. Mohon diberi kesibukan berupa aktifitas yg akan mendekatkan diri kpd Allah.

Insya Allah Kamis besok sy menyusuri pantura.
“Maka barang siapa di antara kalian menghendaki bersama-sama saya makan siang lontong Tuyuhan Lasem, hendaklah kalian bergegas mendatanginya. Sebab yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian, bila kalian termasuk orang yang mengetahui (kelezatannya)”
Hari ini saya diminta bantuan sbg ghost buster. Kasihan, hal itu sangat mengganggunya. Hari ini juga ada orang yg mengklaim diri tdk percaya dan tdk takut dg apa yg dia sebut “gitu-gituan” itu. Kasihan, dia menafikan kenyataan, yg bahkan disebutkan dlm agama agar kita terlindung darinya.

Bila saya ingin menolong kedua orang tsb sekaligus, apa coba yg seharusnya saya lakukan ? Biar win-win solution.

Ya, kayaknya pindahkan saja “sesuatu” itu dari si A ke si B. Si A happy, si B sadar, gitu kali ya…

Saat menjadi panitia MTQ NU I yg diadakan oleh Jam’iyyatul Qurra’ Wal-Huffadh (JQH) di Pesantren Al-Musaddadiyah, Garut, 1994, sy berkesempatan sowan pribadi kpd para Kiai yg menjadi juri para Qori dan Hafidh tsb.

Alhamdulillah pagi itu ada KH Abd Hamid Al-Habsyi sdg duduk sendiri. Saya langsung mendekati beliau.

“Yai, saya saat ini sedang kuliah S1 di ITS Sby. Di samping itu saya juga mengaji kepada guru saya Habib Zein Al-Aydrus. Mohon saran ke depan sebaiknya bagaimana ?”
(Beliau berdua ternyata tidak saling kenal)

“Oh bagus, teruskan saja kuliah dlm bidang itu, tapi nanti matur kpd Habib, mohon berkenan mengajarimu kitab Nashoihud Diniyah”

“Waduh, maaf Yai, saya tidak berani, sbb pengajian kitab kan utk orang banyak, masak saya minta sendiri”
Tiba-tiba beliau diam dan pembicaraan beralih ke topik lain.

Tiba saatnya saya pulang ke Sby dan hari itu juga saya sowan menghadap Habib Zein sbb memang jadwal Thoriqot dan pengajian.

Di luar dugaan, kitab Mukasyafatul Qulub yg saya pegang hari itu tdk jadi saya buka, sebab Habib Zein mengumumkan bahwa hari ini pengajian menggunakan kitab Nashoihud Diniyah.

Duerrrrrrr… Hati saya spt berdentum…
Beliau berdua jelas tdk saling mengenal tapi dapat saling bekerja sama, demi membina kepribadian saya. Betapa pentingnya Allah SWT mendukung saya dg kasih sayang kedua waliyullahNya. Sejak saat itu saya rajin sekali membaca kitab tsb.

Itulah rahasianya mengapa setiap Jum’at malam, meski capek sekalipun saya selalu sempatkan membacakan kitab Nashoih itu kpd para santri ITS yg mau mengaji.

Utk Habib Zein Al-Aydrus dan Yai Abd Hamid wa ushulihima wa furu’ihima, tsumma ila ruhi Sayyid Abdullah Al-Haddad, lahumul faaatihah.

Ketika guru saya dari Jepang berkunjung ke Surabaya, di antara icon penting yg sy tourkan adalah Tugu Pahlawan. Di sana ada reruntuhan gedung Kempetai. Ornamen di dinding luar ada yg bertuliskan kidungan Cak Durasim. Saya minta maaf berkali2 sebelum membacakan kidungan “Bekupon omae doro” tsb.

Lagu itu fenomenal. Alm. Budhe saya sendiri sampai trauma. Bahkan sdh tahun 80anpun masih spontan marah ketika saya menyanyikannya.
“Jangan ngidung itu !!!”

Tapi ternyata kekejaman Kempetai tdk hanya bagi orang luar, melainkan juga bagi bangsanya sendiri. Sbb katanya mrk butuh biaya banyak utk ekspansi tsb. Shg rakyatnya dihrskan ikut membiayai.

Berita baru bagi saya.

Di Tugu Pahlawan itu Guru saya lainnya dari Jepang berkomentar:
“Semua itu sejarah, jangan dilupakan, tapi kamu tak harus bertanggung jwb atas perbuatan mrk, dan sayapun tak hendak bertg jwb atas perbuatan mrk. Kita harus menatap masa depan. Membina hubungan baik dg berbagai pihak”.

Sudah ah, status kok melow2 terus, menceritakan jaman perjuangan. Padahal sejarah yg sy pahami dari para pelaku sejarah seringkali beda dg yg diceritakan para ahli sejarah.

Sayangnya tdk semua orang siap dg perbedaan itu. Ya, ahli sejarah dan pelaku sejarah, dua entitas yg berbeda.

Salah satu mantan Ketua Maarif Sby cerita ke saya. Setelah bbrp tahun peristiwa 10 Nop berlalu, KH. Ridwan Abdullah memanggil menantunya H. Yahya Hasyim. Beliau yg tinggal di Jl. Bubutan VI Surabaya ini sangat concern dg pendidikan dan sdh mendirikan sejumlah madrasah, namun blm ada yg tingkat pendidikan tinggi.

“Kamu kan punya teman2 orang gede, coba diskusikan bgm agar bisa didirikan sebuah perguruan tinggi. Tapi bidangnya harus teknik. Dan utk mengenang pertempuran 10 Nop, namakan perguruan tinggi itu Sepuluh Nopember”.

Pak Yahya dan sejumlah kolega (kelak beliau2 tertulis dlm sejarah sbg para pendiri ITS) mulailah menginisiasi berdirinya PT usulan KH. Ridwan Abdullah yg juga pendiri Nahdlatul Ulama tsb.

Lalu PT Sepuluh Nopember itu berganti2 nama sesuai peraturan negara, namun “Sepuluh Nop”nya tidak pernah berubah. Alhamdulillah hingga saat ini dalam nama ITS tetap mencantumkan kedua kata itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Utk Alm. KH. Ridwan, Alm. H. Yahya, dan seluruh pendiri ITS, alfaatihah.

Lanjutan cerita Alm. Yai Mujib Ridwan: Pasukan Gorga (Gurkha) yg dibawa sekutu itu kaget melihat arek2 Suroboyo yg akan diserangnya ternyata hampir semuanya para santri dan ulama. Gurkha akhirnya paham bahwa arek2 ini sedang berjihad membela tanah airnya.

Kolonel Dzia Ulhaq (kelak Presiden Pakistan) langsung menghentikan pasukannya. Pasukan Pakistan itu justru balik membela arek2 Suroboyo, membantu menyerang Sekutu yg di dlmnya ternyata juga berisi Belanda.

“Apa artinya tumpah darah ?”
Susah payah saya menjelaskan jwb pertanyaan anak sy yg msh TK. Apalagi lalu tanya
“Kalau pandu ibuku, apa ?”

Sebenarnya belum 100 tahun, tapi bahasa kita cepat sekali berevolusi. Seakan dunia kita sdh beda jauh dg para senior tsb. Susunan kalimatnya juga jauh.
“Boleh naik dengan percuma”
“Dari yakinku teguh”

Lalu generasi terbaru:
“Trus, gu musti bilang wow, gitu”
“Galau cing, secara gue gak mungkin dibolehin sama bokap”

Bhs lain relatif stabil setidaknya yg sy tahu spt Arab, Inggris, atau Jepang. Paling2 beda suasana spt “hatta yalijal jamalu fi sammil hiyath” yakni “unta masuk lubang jarum” utk menyatakan mustahil, antara 570 dan 2012 msh mirip.

Bagaimana ya menjaganya, apalagi sekolah2 kita juga tdk berpihak ke bhs Indonesia, terbukti kalau ada guru pinter pasti tdk diberi beban mengajar Bhs Ind.

Saat peringatan kemerdekaan di kampung, sesi yg sy suka waktu kecil dulu adalah testimoni para sesepuh yg ikut berjuang. Skrg para saksi sejarah sdh pada wafat, tinggal kenangan.

Di antara yg paling saya ingat betul adalah cerita dari guru mulia, Alm. KH. Abdul Mujib Ridwan, putranda Alm. KH. Ridwan Abdullah (pencipta lambang NU).
Menurut Yai Mujib, meskipun ultimatum Belanda sblm tgl 10 Nop, tapi rakyat Surabaya (meski sdh siap) blm bersedia maju perang. Para Kiai baru mengijinkan perang dimulai bila yg jaga langit Surabaya sdh datang. Yg dimaksud adalah Alm. KH. Abbas dari Buntet Cirebon.

Alhamdulillah Yai Abbas datang tepat tgl 10 Nopember, maka dimulailah perang heroik pd hari itu yg kelak disebut sbg Hari Pahlawan dan kota Sby disebut sbg Kota Pahlawan.

Sekitar 6 tahun lalu, saat belanja di department store kecamatan Hachihon Matsu, di Hiroshima, tiba2 ada seorang kakek datang mendekati saya.
“Dari mana kamu Nak ?”
“Saya dari Indonesia Mbah”
“Indonesia ?”
“Ya, kota Surabaya”

Tiba-tiba si Mbah itu berkaca-kaca dan gemetaran
“Kenapa Mbah ?”
“Saya dulu dinas di sana”
“Wah Mbah dulu tentara ya ?”

Jangan2 orang ini sdg menyesali perbuatannya dahulu. Demi melihatnya menangis, saya jadi turut sedih.
“Ya. Saya sangat terkenang”
“Apa yg paling dikenang Mbah ?”
“Orang Indonesia itu luar biasa. Masak waktu itu tdk ada tanda apapun, tiba-tiba dia bilang dengar ada pesawat datang. Ternyata bbrp waktu kemudian datang beneran”

Lalu sy makin merinding ketika dia meneruskan cerita tentang “kesaktian” bbrp pejuang yg saya pikir pasti itu para ulama yg sdg turun medan pertempuran memimpin para pejuang melawan penjajah.

Utk seluruh syuhada kita,
Alfatihah annallaha yu’li darojatihim fil jannah, wayu’idu alaina bibarokatihim wa karomatihim, Alfaaaatihah.

Selepas shalat di masjid Bpk itu cerita:
“Saya suruh keluar saja anak saya, masak kerja kok gitu”
“Bukannya sdh sesuai bidangnya, SH”
“Ya, tp kerjaannya membebaskan orang2 jahat”

Memang kalau profesinya pengacara tapi tanpa disetai iman kuat, bukannya memberi nasihat hkm, tapi siang malam yg dipikirkan adlh bgm agar para bajingan yg tengik2 yg sdh membayarnya mahal itu bisa melenggang bebas.

Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.